Berkahku Malapetaka Bagimu
08.08
Karena keberkahanku,
malapetaka bagimu kawan,
Karena kesenanganku,
kesenduan untuk jiwamu kawan,
Karena senyummu, adalah
tangisku kawan,
Karena aku, bukan kamu
kawan,
Biarkan seni kehidupan itu
mengalir di antara kita.
Perbedaan
bukan hal yang baru bagiku, namun bukan berarti menjadikan aku sudah
piawai menghadapi perbedaan-perbedaan
dalam kehidupan. Terlahir dan besar di dalam masyarakat yang sangat heterogen
dan juga tumbuh bersama keluarga yang memiliki berbagai macam kebudayaan
menjadikanku tumbuh menjadi individu yang memiliki toleransi tinggi dalam hal
perbedaan meski tak semua jenis perbedaan mudah aku toleransikan.
Pernah aku
bertanya apakah rasa toleransi itu sebuah anugerah dan meraka yang sulit
bertoleransi terlebih dalam hal perbedaan adalah mereka yang tidak dianugerahi
rasa toleransi itu? Ada seorang teman tidak bisa bertoleransi ketika ada yang
ingin meminjam bukunya, dan itu semua karena ada suatu perasaan tidak nyaman
ketika ada yang meminjam bukunya. Namun temanku itu ingin sekali belajar untuk
mulai bertoleransi pada hal tersebut, dan ia pun mulai untuk membuka diri
ketika ada yang ingin meminjam buku. Dan sejenak aku berpikir bahwa rasa
toleransi itu kadang memang butuh proses belajar dan dibiasakan.
Aku
cenderung melihat segala sesuatu dari berbagai macam sisi, hingga kadang itu
semua membuat rancu. Aku sering menjadi orang yang tak berpihak kepada sisi manapun,
meskipun ada lain waktu aku harus berpihak pada sesuatu hal. Perbedaan pendapat
adalah contoh perbedaan yang sudah melekat dalam kehidupan sehari-hari, yang
sulit adalah bagaimana menyikapi perbedaan pendapat sementara kita memiliki apa
yang menjadi kebenaran milik kita dan di sebarang sana juga ada orang yang
memiliki sesuatu yang mereka anggap sebagai suatu kebenaran. Aku yang cenderung
tak menyukai debat ini pada akhirnya harus membuka mulut untuk mencoba
menengahi, atau kadang jika kepalaku sudah bekecamuk dengan berbagai macam
pendapat aku memilih diam, tak ada kata yang bisa aku pungut dari pikiran dan
lontarkan.
Perbedaan
menjadi sesuatu yang tidak rumit, ketika yang memiliki perbedaan-perbedaan itu
adalah mereka yang mau membuka diri pada perbedaan itu sendiri. Bagiku tidak
ada selera musik yang jelek dan sebaliknya, yang ada hanya perbedaan dalam
menentukan apa yang kita sebut nikmat. Orang yang biasa disebut memiliki selera
musik rendahan atau selera musik jelek bisa saja tidak memilih untuk menyukai
musik yang biasa mereka nikmati, namun ada sesuatu yang menjadikan mereka
sangat menikmati jenis musik tertentu. Itu hanya perihal perbedaan nikmat.
Bahkan
manusia sendiri terlahir dari perbedaan, perbedaan lawan jenis. Perbedaan
memang sudah menjadi seni kehidupan, dan harmoniasasi dan keindahannya sendiri
ditentukan oleh siapa yang memegangnya. Tak ada sesuatu definitif sama di dunia
ini kecuali kata sama itu sendiri. Kita tidak akan bertemu orang dengan
perasaan yang sama, akan berbeda meski mirip.
Kadang aku
begitu mengutuki diri ini yang begitu terbuka dengan perbedaan, karena kadang aku
bertanya “where do I belong?” Dan di
lain sisi terbuka pada perbedaan itu sendiri membuatku mudah untuk memasuki
berbagai macam kehidupan manusia.
Perbedaan
bukan masalah, karena itu semua anugerah, tak dapat dielak dari muka bumi ini.
Yang menjadi masalah adalah ketika kita tidak dapat menyikapi perbedaan itu.
Perbedaan. Perbedaan. Perbedaan. Adakah kamu di sana sedih sedang aku
gunjungkan.
Maaf atas
tulisan yang tidak terarah ini, sebenarnya banyak yang ingin ditulis namun
terbentur akan distorsi pikiran yang berujung pada ketidaktahuan ingin berbagi
apa lagi.
Salam damai
kawan,
Yana S. S
Dalam
jarak yang tidak terbatas,
Aku
ingin mencintaimu dengan perbedaan kita,
Kau
dengan kesederhanaanmu,
Dan
aku yang selalu dengan kerumitanku,
Kau
dengan kesistematisanmu,
Dan
aku dengan jiwa abstrak-ku,
Saat
kita tak memiliki perbedaan,
Mungkin
saat itu juga kita hanya akan diam tak berkembang,
Bersama
perbedaan kita,
Aku
merasa satu denganmu.
Pernah dimuat di : http://sahabatpena.org/2015/11/01/berkahku-malapetaka-bagimu/
0 komentar