Tak Menahu Mengapa Tidak Tahu Hendak Dijuduli Apa : Jakarta
17.23
Jakarta adalah sebuah perpektif…
mari mencari diksi lain karena Jakarta tidak terlahir dari (hanya) sebuah
perspektif. Jakarta menyajikan berbagai macam perspektif, walau kadang saya
sulit memberi penjelasan eksplisit tentang perspektif-perspektif itu. Saya
sering merindukan Jakarta kala sedang berkuliah, namun ketika di Jakarta saya
begitu mengutuki panas yang menggebu, seakan Jakarta adalah sebuah akuarium
dengan lampu tegangan tinggi yang terus menyala dan diisi dengan berbagai macam
ikan, berbagai macam jenis benda. Pengap.
Berjalan menyusuri Jakarta lebih
baik tak mengharap pikiran akan menjadi tenang, namun jangan juga pesimis akan
terus menebar kesemerawutan pikiran. Itu semua tergantung bagaimana kita
mengajak pikiran kita untuk menikmati setiap sudut kota ini. Saya bukan orang
yang paham betul seluk-beluk Jakarta, saya hanya orang yang sesekali mengembara
dan di kemudian hari akan (sedikit) lupa jalan menuju suatu tempat di Jakarta.
Berjalan di Jakarta memandang
berbabagi macam orang sering kali membuat saya ingin menyelam dalam lautan
pikiran mereka, saya selalu bertanya-tanya apa yang ada di benak orang
berpakaian lusuh di gerbong kereta, apa yang membuat perempuan cantik di
sebrang sana tak kunjung menyebrang dan hanya teremenung, apa yang mereka
tunggu, apa yang mereka cari, apa yang mereka perjuangkan, bagaimana mereka
setiap hari berjuang melawan panas kota ini, mengapa anak-anak itu tertawa
lepas, apa yang membuat mereka tak bisa lepas memandangi layar ponsel, seberapa
lelahkah mereka, apa mungkin di antara mereka ada seorang bipolar, atau mungkin
psikopat, atau ada yang kemarin baru saja cerai atau menikah, atau baru
dikarunia seorang anak, dan selama itu pula aku hening di tengah keramaian itu.
Dan semua itu membuat saya merasa
tidak sendirian.
Selama liburan ini saya dua kali
menyusuri Jakarta, di awal pergi ke Jakarta Biennale bersama kawan dari satu
fakultas, lalu menyusuri Jakarta Kota dan sekitarnya. Awalnya ingin mencari
Kopi Es Tak Kie, pergi tanpa membaca review
dahulu sampai sana yang ada hanya gang di dalam pasar yang tidak sedang
beroperasi. Lalu kami hanya jalan-jalan di sekitar sana, menuyusuri jalan yang
gelap dengan banyak seniman lukisan, dan pedagan kaki lima. Kami makan dekat
Museum Fatahillah, begitu ramainya dan membat akuarium ini semakin riuh dan
pengap. Namun, sekali lagi Jakarta adalah bagaimana kita menikmatinya. Malam
itu satu hari sebelum malam tahun baru sungguh ramai di sana, berbagai macam
barang dan makanan dijajakan, ada lesehan dan seketika manusia di sana berwujud
dengan berbagai macam bentuk, ada yang seperti di pasar, ada yang menikmatinya
layaknya sedang piknik ada yang seperti di pasar malam, ada yang makan, ada
yang teriak-teriak. Hidup.
(Budiman sedang di salah satu sudut instalasi seni di Jakarta Biennale)
(suasana malam di depan Museum Fatahillah)
Karena Kopi Es Tak Kie yang saya
inginkan belum tercapai akhirnya beberapa hari kemudian saya mengajak rekan berpetualang saya. Acha
dan Echa. Ya cukup sulit memenggil mereka ketika sedang bersama. Sudah lama
tidak bercengkrama dengan mereka berdua, padahal Acha dulu teman satu kamar
kostan. Kami berangkat pukul delapan pagi, dan menuju Kopi Es Tak Kie dari
Stasiun Kota pukul sepuluh siang, berjalan kaki. Kopi Es Tak Kie yang kami
pesan adalah yang memakai susu semua, sebenarnya saya ingin pesan yang hitam
namun kondisi diri tidak mendukung. Tidak kecewa, dan memang sungguh nikmat.
Harganya 17.000 namun hanya tempatnya yang jauh, karena kami dari Depok.
Selesai menikmati Kopi Es Tak
Kie, kami melanjutkan petualangan di Jakarta hingga senja.
(kopi es susu)
Selamat siang, semoga anda bisa
menikmati Jakarta menggunakan perspektif anda.
(di depan halte Bundaran HI)
(lupa)
(dekat Stasiun Sudirman)
(Stasiun Jakarta Kota)
(Toko Kawi)
(salah satu instalasi seni)
(soto enak)
(busway)
(kedai kopi di daerah Sabang, Jakarta Pusat)
(Yana, Acha, Echa)













0 komentar